oleh Sparta
dampak krisis global telah meluas kemana-mana. Sifat serakah, tanpa peduli pada nasib orang kecil, telah membuat kelompok kaya melakukan aktivitas bisnisnya tidak terkendali. Kita dapat melihat sekarang bagaimana dampak keserakahaan mereka terutam yang berasal sistem ekonomi kapitalis yang berasal dari barat. sudah selayaknya kita dapat merenung sebuah tulisan yang diambil dari blog strategik menajamen yang ditulis oleh Yodhia Antariksa dengan judul "Menunggu Citi Bank Menjemput Ajal" sebagai berikut:
Bau kemenyan kematian tampaknya kian merebak disetiap sudut kantor pusat Citibank di New York. Kinerja bisnisnya kian berdarah-darah; membuat segenap raganya terpelanting di tepi jurang kematian yang memilukan. Ibarat seorang pasien, Citibank kini tengah berada di ruang ICU – menatap dirinya menggigil ketakutan dalam bayang-bayang sakaratul maut.Tak heran jika minggu ini harga sahamnya roboh menjadi hanya US$ 1 dollar (!), terjun bebas dari harga US$ 50 sekitar dua tahun silam (itu artinya para pemegang saham Citibank telah kehilangan uangnya hingga 98%). Gedung pencakar langit Citibank yang merebak di seantero kota dunia, termasuk kota Jakarta, selalu berdiri dengan gagah dan sarat dengan aura kemegahan. Namun dibalik kemegahan itu, sesungguhnya tubuh mereka telah tercabik-cabik penuh luka (untuk tahun 2008 lalu saja, mereka menderita kerugian hingga 200 trilyun rupiah; jumlah yang cukup untuk membuat jalan tol memanjang dari Sabang hingga Merauke). Ada dua pelajaran penting yang layak kita kenang dari kisah Citibank yang amat tragis nan memilukan ini. Yang pertama adalah ini : arsitektur keuangan global ternyata telah berubah menjadi sirkuit kasino global, tempat dimana para spekulan berjudi mempertaruhkan modal hingga ribuan trilyun rupiah.
Produk-produk keuangan derivatif nan eksotik diciptakan hanya demi memuaskan hasrat spekulatif para “bandit-bandit keuangan global” yang haus akan keuntungan tanpa batas.Tanpa regulasi antar negara yang terpadu dan ketat, sirkuit perjudian keuangan global itu pada akhirnya berubah menjadi “ajang pembantaian” bagi masyarakat kecil di segenap penjuru langit. Akibat ulah spekulan itu, harga minyak pernah melonjak tak terkira. Dan kini, ketika sirkuit kasino itu ambruk lantaran krisis kredit perumahan, imbasnya telah membuat kenestapaan bagi jutaan penduduk di muka bumi. Mulai dari buruh pabrik tekstil di kota Tangerang hingga petani pisang di kota Santiago, sejak dari pekerja di kota Shanghai hingga penjual kakilima di kota Lisabon.“Global capitalism has destroyed my life…”, demikian jerit pilu seorang penjahit baju dipinggiran kota Mumbai dengan penuh kepedihan.Pelajaran penting yang kedua adalah ini : kebodohan ternyata bukan hanya milik kaum tak berpengetahuan. Para kaum bankir berdasi yang gagah nan necis di pusat kota New York itu ternyata juga benar-benar bodoh. They are really damn stupid people. Mungkin kita jadi sadar, manajemen Citibank sebagai perusahaan kelas dunia itu ternyata juga penuh dengan kekonyolan.Banyak penduduk di kota negara berkembang yang acap dihinggapi rasa minder ketika berhadapan dengan perusahaan multinasional, apalagi perusahan sekaliber Citibank. Kita selalu menganggap mereka memiliki manajemen kelas dunia yang pasti hebat dalam segala hal. Namun tragedi Citibank ini memberi bukti bahwa anggapan itu tak sepenuhnya benar. Kadang, mereka justru lebih konyol dan lebih bodoh dibanding kita.Dulu ketika menjejakkan kaki di tengah keramaian kota Manhattan, saya menatap gedung kantor pusat Citibank dengan penuh rasa masygul. Di antara pendaran lampu-lampu malam yang menghiasi Times Square, saya melihat logo neon besar dengan sebuah kalimat indah berbunyi : Citibank - Citi that Never Sleeps.Kini saya cuma bergumam, mungkin tagline itu sekarang mesti diganti menjadi : Citibank - Citi that Sleeps Forever….....
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Risiko. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Risiko. Tampilkan semua postingan
Selasa, 10 Maret 2009
Sabtu, 14 Februari 2009
Pentingnya Manajemen Risiko Di Bank
Oleh: Sparta
Bank adalah Industri yang paling banyak menghadapi risiko. Hal ini disebabkan kompleksitas bisnis yang dijalani oleh industri perbankan. Meskipun bank banyak dihadapi oleh jenis risiko, namun bank tetap dapat menjalani bisnis. Tentu saja ini dapat dipahami bahwa bank adalah lembaga kepercayaan. Bank berfungsi sebagai agen keuangan. Mendapatkan dana dan menyalurkan kembali dananya. Berbagai jenis risiko yang sering dihadapi oleh bank yaitu risiko likuiditas, risiko solvabilitas, risiko pasar, risiko operasional, risiko kredit, risiko suku bunga, risiko valas, dan risiko lainnya.
Kebutuhan untuk mendalami risiko ini sangat penting bagi karyawan bank. Risiko adalah potensi kerugian yang dihadapi dimasa datang yang timbul dari peristiwa atau kejadian yang menimbulkan kerugian. Kerugian dapat menimbulkan dampak material maupun inmaterial bagi bank. Penerapan risk managemen dapat mengurangi risiko yang akan terjadi. Untuk itu diperlukan penguasaan ilmu menagemen risiko bagi bank. Dampak risiko bagi sangat tinggi apabila tidak dilakukan pengelolaan dengan baik. Kasus saat ini yang terjadi adalah bangkrutnya Bank Century yang disebabkan oleh risiko yang timbul dari pasar modal dan uang dan kesalahan manajemen manajemen.
Mata Manajemen Risiko telah mulai di tawarkan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia terutama di Jakarta. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Banking School telah memasukkan mata kuliah manajemen risiko dalam perbankan sejak mulai berdirinya (September 200). Manajemen risiko di perguruan tinggi sebagian menawarkan manajemen risiko dari pendekatan lain (umum). dalam mata kuliah Manajemen Risiko, STIE-IBS membagi dalam tiga kelompok yaitu Konsep Manajemen Risiko, Pengukuran, dan Pengelolaan Risikonya. Bagi perguruan tinggi yang mau memasukkan manajemen risiko dalam kurikulumnya, saya siap untuk memberikan perkuliahanya atau workshop bagi dosen yang mau mengajar mata kuliah ini, begitu juga bagi bank yang ingin memberikan ilmu manajemen risiko bagi karyawannya. (sparta1609@yahoo.com)
Wassllam...
Sparta
Bank adalah Industri yang paling banyak menghadapi risiko. Hal ini disebabkan kompleksitas bisnis yang dijalani oleh industri perbankan. Meskipun bank banyak dihadapi oleh jenis risiko, namun bank tetap dapat menjalani bisnis. Tentu saja ini dapat dipahami bahwa bank adalah lembaga kepercayaan. Bank berfungsi sebagai agen keuangan. Mendapatkan dana dan menyalurkan kembali dananya. Berbagai jenis risiko yang sering dihadapi oleh bank yaitu risiko likuiditas, risiko solvabilitas, risiko pasar, risiko operasional, risiko kredit, risiko suku bunga, risiko valas, dan risiko lainnya.
Kebutuhan untuk mendalami risiko ini sangat penting bagi karyawan bank. Risiko adalah potensi kerugian yang dihadapi dimasa datang yang timbul dari peristiwa atau kejadian yang menimbulkan kerugian. Kerugian dapat menimbulkan dampak material maupun inmaterial bagi bank. Penerapan risk managemen dapat mengurangi risiko yang akan terjadi. Untuk itu diperlukan penguasaan ilmu menagemen risiko bagi bank. Dampak risiko bagi sangat tinggi apabila tidak dilakukan pengelolaan dengan baik. Kasus saat ini yang terjadi adalah bangkrutnya Bank Century yang disebabkan oleh risiko yang timbul dari pasar modal dan uang dan kesalahan manajemen manajemen.
Mata Manajemen Risiko telah mulai di tawarkan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia terutama di Jakarta. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Banking School telah memasukkan mata kuliah manajemen risiko dalam perbankan sejak mulai berdirinya (September 200). Manajemen risiko di perguruan tinggi sebagian menawarkan manajemen risiko dari pendekatan lain (umum). dalam mata kuliah Manajemen Risiko, STIE-IBS membagi dalam tiga kelompok yaitu Konsep Manajemen Risiko, Pengukuran, dan Pengelolaan Risikonya. Bagi perguruan tinggi yang mau memasukkan manajemen risiko dalam kurikulumnya, saya siap untuk memberikan perkuliahanya atau workshop bagi dosen yang mau mengajar mata kuliah ini, begitu juga bagi bank yang ingin memberikan ilmu manajemen risiko bagi karyawannya. (sparta1609@yahoo.com)
Wassllam...
Sparta
Langganan:
Postingan (Atom)